Kamis, 02 April 2009

opini seputar pemilu

MEMAHAMI ARTI DEMOKRASI DAN PEMILU

Oleh Tukiman Pulungan

Kata demokrasi merupakan akronim yang berasal dari Yunani. Demokrasi berasal dari kata demos (rakyat), cratos (kekuasaan rakyat), dengan singkat dapat diartikan kekuasaan berada ditangan rakyat. Sedangkan pemilu merupakan ajang dari proses pelaksanaan demokrasi tersebut. Sejarah mencatat bahwa pelaksanaan demokrasi pertama sekali di seantero bumi ini ialah di Athena (Yunani) dengan sistem pemilihan langsung. Pemilu merupakan ajang penyaluran aspirasi rakyat untuk mendukung orang-orang yang berani memperjuangkan hak-hak rakyat (petani, buruh, guru, nelayan dan kaum miskin kota). Dimana golongan ini sampai saat ini nasibnya masih tragis karena belum ada perhatian dari para penguasa, mereka masih mengalami kemiskinan yang sifatnya samar-samar.
Hal ini terjadi karena pemilu yang diakui sebagai mekanisme paling modern untuk merealisasikan kekuasaan rakyat (demokrasi), sesungguhnya hanya mewakili sebagian dari keseluruhan. Dan sebagian yang menguasai keseluruhan itu, bisa jadi malah membawa masyarakat kejurang kenestapaan. Karena sebahagian dari keseluruhan tersebut lebih mementingkan kepentingan pribadi dan golongan dan menapikan kepentingan rakyat.
Demokrasi yang seharusnya memperjuangkan kepentingan rakyat sekarang hanya menjadi sebuah tradisi yang dihormati dan diagung-agungkan diseluruh belahan bumi ini tanpa ada implemnetasi yang jelas dari pelaksanaan demokrasi tersebut. Sebagai contoh pemimpin yang terpilih melalui pemilu yang merupakan implementasi dari demokrasi pun akan malu mengundurkan diri bila ternyata dia tak sanggup mengemban amanah rakyat dan tak becus memimpin negeri. Ini merupakan fotret dari belum adanya kesadaran individu untuk melihat kemapuannya sendiri dan belum ada penghargaan terhadap nilai-nilai demokrasi.
Seabsurd-absurdnya demokrasi, ia punya mekanisme untuk memperbaiki diri karena dunia tempat ia hidup memang tidak sempurna. Kalau pemimpin mengelak dari perbagai alasan lantaran tak sempurna, lalu dengan segala cara mengelabui rakyat dan menyulap pemilu, sehingga kita bisa menarik kesimpulan bahwa demokrasi telah dikebiri. Demokrasi telah dijadikan alat oleh kelompok untuk memperoleh dukungan dari rakyat.
Demokrasi lebih tepat menjadi muara samudera dari sungai-sungai ideologi dan kepentingan. Ia mewujud sebagai wahana imajiner yang diterima berbagai kalangan untuk bertemu, berdiplomasi, bermain politik dan mencoba menaklukan lawan tanpa kekerasan. Karena bila tak ada wahana yang imajiner itu, kemajemukan memang mudah memicu konflik yang tak terselesaikan.
Demokrasi sering kali diartikan hanya sebagai pemilihan umum saja. Padahal sebenarnya demokrasi merupakan standart dan tujuan dari suatu negara. Karena di dunia modern, sistem politik demokrasi dalam arti semua orang turut dalam mengambil keputusan, itu tidak mungkin terwujud, hal ini dapat terwujud dalam masyarakat yang sedikit dan bersifat homogen seperti di Athena. Jika demokrasi tidak dapat terwujud dalam konteks negara modern, maka demokrsi itu seharusnya dapat terwujud pada Partai Politik dan LSM. Sebab membangun republik berarti membangun lembaga-lembaga pemerintah maupun lembaga-lembaga masyarakat. Dalam republik yang baik, lembaga-lembaga pemerintah itu adalah kumpulan kekuatan yang bisa dikontrol oleh lembaga-lembaga dalam masyarakat.
Selamat menikmati demokrasi dalam implementasinya pada pemilu 9 April 2009 yang tinggal menghitung hari lagi. Semoga kita dapat memilih orang-orang yang sadar dan mau berbuat. Sadar akan makna dan arti demokrasi itu sendiri dan mau berbuat bagi kepentingan rakyat (petani, nelayan, buruh, guru dan kaum miskin kota). Semoga pemilu kali ini mengahsilkan orang-orang yang kapabel dan proporsional. Marilah sama-sama kita menyuarakan untuk menolak poltisi busuk yang akan memanfaatkan ajang demokrasi kali ini untuk kepentingan pribadinya.


Penulis adalah mahasiswa jurusan pendidikan sejarah Universitas Negeri Medan sekaligus Ketus Senat Mahasiswa Fakultas Periode 2008-2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar